1 Pohon Bawang Merah Menghasilkan Berapa Kg dan Cara Optimasinya

1 Pohon Bawang Merah Menghasilkan Berapa Kg dan Cara Optimasinya

Smallest Font
Largest Font

Banyak petani pemula maupun hobiis perkotaan yang sering bertanya mengenai **1 pohon bawang merah menghasilkan berapa kg** saat memasuki fase perencanaan tanam. Pertanyaan ini sangat krusial karena berkaitan langsung dengan proyeksi keuntungan dan efisiensi lahan yang digunakan. Secara umum, satu titik tanam bawang merah tidak menghasilkan satu buah umbi tunggal, melainkan sebuah rumpun yang terdiri dari beberapa siung umbi baru yang berkembang dari satu bibit. Secara teknis, produktivitas satu pohon bawang merah sangat bervariasi tergantung pada varietas, kesehatan tanah, dan teknik budidaya yang diterapkan. Dalam kondisi optimal di lahan pertanian Indonesia, satu bibit bawang merah dapat berkembang menjadi 5 hingga 15 siung umbi baru. Jika dikonversi ke dalam berat, angka rata-rata yang dihasilkan berkisar antara 50 gram hingga 150 gram per rumpun. Artinya, untuk mencapai bobot 1 kg, Anda setidaknya membutuhkan sekitar 7 hingga 20 pohon bawang merah yang tumbuh dengan sehat.

Mengukur Standar Hasil Panen Bawang Merah per Rumpun

Untuk menjawab pertanyaan **1 pohon bawang merah menghasilkan berapa kg** secara lebih mendalam, kita harus melihat pada 'rasio lipat' hasil panen. Petani profesional biasanya menggunakan parameter perbandingan berat bibit dengan berat hasil panen. Rasio yang dianggap sukses adalah 1:10 atau bahkan 1:15. Jika Anda menanam 1 kg bibit, maka hasil panen yang diharapkan adalah 10 kg hingga 15 kg bawang merah basah.

bibit bawang merah berkualitas tinggi
Kualitas bibit awal menentukan jumlah anakan yang akan terbentuk pada satu pohon bawang merah.
Namun, berat per pohon ini juga sangat dipengaruhi oleh kadar air saat panen. Bawang merah yang baru dicabut (panen basah) tentu memiliki bobot yang lebih berat dibandingkan dengan bawang merah yang sudah melalui proses pengeringan (askip). Penyusutan berat selama proses pengeringan bisa mencapai 20% hingga 30%. Oleh karena itu, estimasi hasil per pohon harus dibedakan antara kondisi basah dan kondisi kering siap jual.

Perbandingan Produktivitas Berdasarkan Varietas

Setiap varietas bawang merah memiliki genetik yang berbeda dalam memproduksi jumlah anakan. Berikut adalah tabel perbandingan beberapa varietas populer di Indonesia yang memengaruhi jawaban atas pertanyaan produktivitas per pohon:

Varietas Bawang Potensi Hasil per Rumpun (Gram) Rata-rata Jumlah Anakan Karakteristik Utama
Bima Brebes 50 - 80 7 - 12 Tahan cuaca panas, warna merah menyala.
Tajuk 60 - 100 6 - 10 Aroma sangat tajam, adaptif di dataran rendah.
Bauji 70 - 120 8 - 14 Tahan serangan jamur di musim hujan.
Tuk-Tuk (Biji) 80 - 150 1 (Umbi Tunggal Besar) Bentuk bulat besar, berasal dari biji (TSS).

Faktor Penentu Berat Umbi Bawang Merah

Ada alasan mengapa satu petani bisa mendapatkan hasil melimpah sementara petani lainnya mengalami kegagalan meski menggunakan bibit yang sama. Faktor lingkungan dan nutrisi memegang peranan hingga 70% dalam menentukan berat akhir umbi. Keseimbangan antara unsur hara makro (NPK) dan mikro (Boron, Zinc, Magnesium) sangat menentukan proses pembelahan sel pada umbi.

"Keberhasilan budidaya bawang merah tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak pupuk yang diberikan, tetapi seberapa tepat waktu dan jenis pupuk tersebut diserap oleh akar pada fase vegetatif dan generatif." - Pakar Agronomi Hortikultura.
pemberian pupuk pada tanaman bawang merah
Aplikasi pupuk yang tepat sasaran pada fase pembentukan umbi akan meningkatkan bobot per rumpun secara signifikan.

Faktor pertama adalah **kualitas tanah**. Bawang merah menyukai tanah lempung berpasir yang gembur dengan pH ideal antara 5,5 hingga 6,5. Jika tanah terlalu keras (padat), umbi tidak akan bisa mengembang dengan maksimal, sehingga meskipun jumlah anakannya banyak, ukurannya akan kecil-kecil dan ringan. Inilah yang sering menyebabkan hasil panen tidak mencapai target kg yang diinginkan. Faktor kedua adalah **manajemen air**. Bawang merah adalah tanaman yang 'manja' terhadap air; ia butuh penyiraman rutin tetapi sangat anti terhadap genangan. Air yang terlalu banyak akan memicu pembusukan akar, sedangkan kekurangan air pada fase pembentukan umbi akan membuat proses fotosintesis terhambat, sehingga cadangan makanan yang disimpan di umbi menjadi sangat sedikit.

Pentingnya Pengendalian Hama dan Penyakit

Serangan hama seperti ulat grayak (*Spodoptera exigua*) atau penyakit layu fusarium dapat menurunkan produktivitas hingga 80%. Ketika daun rusak akibat dimakan ulat, kemampuan tanaman untuk memproduksi energi melalui fotosintesis menurun drastis. Akibatnya, umbi yang dihasilkan akan menyusut dan tidak berbobot. Petani harus waspada terutama pada musim pancaroba di mana kelembapan udara meningkat drastis.

hasil panen bawang merah berukuran besar
Umbi yang sehat dan bebas hama memiliki densitas yang lebih tinggi sehingga lebih berat saat ditimbang.

Langkah Praktis Meningkatkan Bobot Panen

Untuk memaksimalkan target agar **1 pohon bawang merah menghasilkan berapa kg** yang paling optimal, Anda perlu melakukan langkah-langkah teknis berikut ini secara disiplin:

  • Pemilihan Bibit Tua: Gunakan bibit yang sudah disimpan selama 2-3 bulan. Bibit yang cukup umur memiliki titik tumbuh yang lebih kuat dan potensi anakan yang lebih banyak.
  • Pemotongan Ujung Bibit: Memotong sedikit bagian ujung bibit sebelum ditanam dapat merangsang pertumbuhan tunas secara serempak dan mempercepat pembentukan rumpun.
  • Aplikasi Unsur Kalium Tinggi: Memasuki usia 35-40 HST (Hari Setelah Tanam), berikan pupuk dengan kandungan Kalium (K) tinggi untuk mengeraskan umbi dan menambah bobot atau densitas siung.
  • Jarak Tanam yang Ideal: Gunakan jarak tanam 15x15 cm atau 20x15 cm. Jarak yang terlalu rapat akan memicu persaingan nutrisi, sementara jarak yang terlalu renggang memang menghasilkan umbi besar namun total populasi per meter persegi berkurang.

Selain aspek teknis di lapangan, penanganan pascapanen juga menentukan harga jual. Bawang merah yang dijemur dengan teknik gantung biasanya memiliki ketahanan simpan yang lebih baik. Hal ini penting jika Anda berniat menyimpan hasil panen terlebih dahulu sambil menunggu harga pasar membaik.

Prospek Bisnis Bawang Merah di Masa Depan

Memahami perhitungan matematis tentang produktivitas tanaman adalah langkah awal menuju manajemen pertanian yang profesional. Meskipun fluktuasi harga sering terjadi, permintaan pasar terhadap komoditas ini tidak pernah surut karena kedudukannya sebagai bumbu dapur utama dalam kuliner Nusantara. Inovasi dalam penggunaan benih dari biji (TSS) kini juga mulai dilirik karena dianggap lebih efisien dalam biaya logistik dibandingkan bibit umbi tradisional. Investasi pada teknologi pengairan otomatis dan pemupukan presisi akan menjadi pembeda besar dalam hasil akhir. Dengan konsistensi dalam perawatan dan pemahaman mendalam mengenai **1 pohon bawang merah menghasilkan berapa kg**, pertanyaan tersebut tidak lagi menjadi sebuah misteri, melainkan sebuah target matematis yang bisa dicapai dengan presisi tinggi guna meningkatkan taraf ekonomi petani.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow